Inikah Pemerataan Itu? Cuma Berjarak 7 Km dari Kota Besar Kampung Ini Tanpa Aspal dan Listrik - Suaranews Inikah Pemerataan Itu? Cuma Berjarak 7 Km dari Kota Besar Kampung Ini Tanpa Aspal dan Listrik | Suaranews

Inikah Pemerataan Itu? Cuma Berjarak 7 Km dari Kota Besar Kampung Ini Tanpa Aspal dan Listrik

Share it:

ilustrasi


Kampung ini dinamai Sloklai. Kampung yang seakan tak merasakan remah kemajuan kota, padahal hanya berjarak tujuh kilometer dari Jalan Mulawarman, Balikpapan Timur.

Walau terhitung dekat dari keramaian, rasanya sulit sekali menginjakkan kaki di sana. Tak ada akses jalan membuat orang harus susah payah jika keluar atau masuk Kampung Sloklai. Posisi tepatnya berada di RT 9, Kelurahan Lamaru, Kecamatan Balikpapan Timur, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kaltim Post (FAJAR Group) bertamu ke kampung ini pada Rabu siang (19/7/2017). Masuk dari Jalan Rawamangun, kendaraan hanya bisa melewati track mulus sepanjang satu kilometer. Batas jalan beraspal ini hanya sampai Pondok Pesantren Gema Rahmatullah. Letaknya dekat dengan Danau Cermin Lamaru yang masuk RT 7 Kelurahan Lamaru.

Setelah melewati pondok pesantren, terhampar jalur yang bukan main sulitnya. Lahan sangat gersang melewati perbukitan tanpa ada pengaman atau pembatas jalan. Padahal, di sisi kiri dan kanan masih terdapat jurang tinggi. Kebanyakan lahan ini merupakan perkebunan karet dan buah.

Jalanan menanjak dan turunan curam yang tak mulus ini tentu membahayakan. Karena akses jalan yang tak memadai, makan waktu agar bisa melintas dengan selamat. Belum lagi, lelah terasa dua kali lipat. Setelah menerjang tanah liat sepanjang 3 kilometer, baru merasa jalur yang mulus setelah tiba di RT 9. Jalanan sudah dilapisi agregat bebatuan.

“Ini bantuan dari Dinas Perkebunan sekitar tahun 2006. Panjang jalan yang sudah agregat ini sepanjang 15 kilometer hingga wilayah Km 23 KWPLH Karang Joang. Walau memang bisa tembus ke sana, jalanannya lebih parah lagi dari ini. Mungkin butuh waktu sampai 1,5 jam sampai sana,” kata Elsan Wibowo, ketua RT 9, Kelurahan Lamaru.

Dia mengungkapkan, akses jalan tembus hingga Jalan Rawamangun baru dibuka sekitar 2004. Walau Balikpapan tergolong sebagai kota maju dan berkembang di Benua Etam, bahkan pernah menjadi Kota Paling Dicintai di Dunia (The World’s Most Loveable City) versi World Wildlife Fund (WWF) April 2015, Sloklai menjadi bukti nyata masih ada kampung yang terisolasi di kota ini.

Masyarakat setempat harus merasakan keadaan ini selama 23 tahun terakhir. Padahal, bisa dibilang kampung tersebut tak jauh dari hiruk-pikuk kota.

Sesungguhnya jalan di daerah permukiman tersebut sudah menggunakan lapisan agregat dengan batuan. Namun sayangnya, justru jalan kondisi menuju kampungnya berada dalam kondisi parah. Tak ada semen atau bebatuan, hanya tanah merah yang keadaannya semakin tak karuan saat hujan datang. Jalan tersebut berbatasan langsung dengan RT 7.

“Jadi yang belum terjamah sama sekali itu jalan RT 7. Jalan ini menjadi akses satu-satunya yang terdekat untuk kami keluar ke jalan raya. Kalau saat cuaca panas dan jalan kering, tak ada masalah. Tapi, kalau sudah hujan, bukan main perjuangan kami sangat luar biasa untuk bisa keluar,” ungkap Elsan.

Akses utama menuju RT 9 yakni melalui Gang Padat Karya. Jalan ini berada tepat di seberang Polsek Balikpapan Timur. Selain itu, warga bisa menggunakan Jalan Rawamangun yang dekat dengan lokasi Danau Cermin. Namun, kondisi jalan yang cukup baik hanya di depan gang. Contohnya akses menuju Danau Cermin sudah mulai rusak.

Dia menuturkan, datangnya cuaca panas sangat disyukuri warga. Berharap tanah yang dilalui mereka bisa mengeras. Hanya dengan cara itu, warga sekitar bisa berlalu lalang dengan tenang. Jadi, memudahkan mereka beraktivitas terutama pergi berkebun dan mengantar anak sekolah. Memang sebagian besar warga Sloklai memiliki profesi sebagai petani karet.

Berjibaku dengan lumpur sudah menjadi “makanan” warga sehari-hari jika melintas di jalan. Khususnya jika musim hujan. Seperti menerjang lautan tanah liat, butuh kecakapan dalam berkendara.

Mengontrol gas kendaraan secara perlahan dan roda yang lari ke sana-kemari karena tanah licin. Tak terhitung berapa kali mereka jatuh saat melewati jalan rusak itu. Kebanyakan warga menggunakan kendaraan roda dua jenis bebek dan matic.

“Kampung kami ini jaraknya masih 4 kilometer dari Danau Cermin. Sepanjang itu jalannya rusak total. Perjuangan sekali kalau mau keluar ke jalan raya. Melalui Gang Padat Karya lebih parah lagi karena jalannya terputus. Jadi, kendaraan roda empat harus lewat Jalan Rawamangun,” tuturnya.

Elsan menjelaskan, setidaknya ada 36 KK yang bermukim di RT 9. Jumlah rumah lebih banyak dari itu, sekitar 60 rumah berdiri di atas dataran tinggi tersebut. Sebenarnya, kondisi kampung cukup ramai, hanya jarak antar-rumah agak berjauhan satu sama lain. Jadi, keberadaan rumah tersebar, kebanyakan mengikuti area kebun masing-masing.

“Seperti hujan Minggu (16/7) malam, jalan rusak parah. Kami masih bisa lewat tapi harus menunggu cuaca panas dan jalan kering. Kalau sudah hujan, jalan tidak bisa dilewati sama sekali. Baik kendaraan roda dua dan empat harus berjuang. Pernah sehabis hujan mau keluar lewat jalanan itu, saya membutuhkan waktu 2 jam hingga bisa sampai ke jalan raya besar,” sambungnya.

Kalau sudah rusak parah seperti itu, mau tidak mau, warga harus memilih jalan lain. Pilihannya cukup jauh karena mengelilingi Waduk Teritip. Jarak tempuhnya kurang lebih mencapai 20 kilometer. Tentu memakan waktu lebih lama karena harus berjalan hingga perbatasan dengan Gunung Tembak. Menurut dia, tak ada akses jalan tersebut menjadi kendala besar bagi anak sekolah.

“Kalau kami yang kerja mungkin bisa menunda tunggu hujan reda dan lainnya. Tapi, kalau anak sekolah harus berangkat dari pukul 06.00 pagi. Sedangkan kondisinya kalau habis hujan, jalanan berlumpur, kasihan sekali perjuangan mereka. Kadang baju sudah basah kehujanan dan kotor lumpur. Kebanyakan sekolah di SD 014 Balikpapan Timur, SMA 7, SMP 19, dan sekitarnya,” jelasnya.

Contohnya untuk menuju SD 014 Balikpapan Timur harus melewati jalan sekitar 4 kilometer. Satu-satunya akses yang dimiliki warga hanya jalan rusak tersebut. Kebanyakan mereka memilih masuk pondok pesantren daripada harus sekolah negeri. Tidak hanya itu, warga kesulitan menjangkau musala, satu-satunya tempat ibadah yang mereka gunakan untuk salat Id dan salat Jumat.

Dia menambahkan, selain warga setempat, jalan tersebut menjadi akses utama bagi mereka yang memiliki mata pencarian di sekitar itu.

Di kawasan ini memang terdapat kebun karet dan empang ikan bandeng yang menjadi sumber penghasilan warga. Tidak hanya warga sekitar, namun mereka yang tinggal di wilayah Manggar dan Lamaru. Masyarakat hidup mandiri dengan berprofesi sebagai pengusaha dari bidang perkebunan dan perikanan.

“Ketika hujan turun, sulit menjangkau akses kebun itu. Sehingga menjual karet pun sulit. Sementara harga karet terus menurun. Ya memang kalau jalan ke kebun kan tanggung jawab masing-masing. Namun, setidaknya perhatikan akses jalan utama dulu,” jelasnya.

Selama ini, mereka hanya bergantung pada peran aktif swadaya masyarakat sendiri. Dengan dana seadanya, mereka gotong royong membersihkan parit hingga menyemen sendiri jalan tersebut. Biasanya kegiatan gotong royong dilakukan selama dua minggu sekali. Lalu, sumbangan dana Rp 10 ribu setiap bulan membeli obat rumput untuk merawat jalan agregat yang sudah tersedia.

“Kami swadaya untuk semen jalan yang parah, kalau warga sebenarnya sudah tergolong aktif gotong royong. Tapi mau bagaimana, kami kalah dengan alam. Kami hanya bisa berharap cuaca panas dan jalan cepat kering agar bisa digunakan lagi,” ucapnya.

sumber: fajar

Ayo Sebarkan:

Loading...

Share it:

nusantara

Post A Comment:

0 comments:

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.