Terkait PERPPU Presiden Jokowi Dinilai Telah Menyatukan Umat Islam Dalam Satu Barisan Untuk Melawan Dirinya - Suaranews Terkait PERPPU Presiden Jokowi Dinilai Telah Menyatukan Umat Islam Dalam Satu Barisan Untuk Melawan Dirinya | Suaranews

Terkait PERPPU Presiden Jokowi Dinilai Telah Menyatukan Umat Islam Dalam Satu Barisan Untuk Melawan Dirinya

Share it:

ilustrasi




Melanjutkan analisanya soal dampak yang akan dialami Presiden Joko Widodo pasca diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).

“Dengan keluarnya Perppu ini, Jokowi tanpa sadar sudah mengumpulkan lawan dalam satu barisan. Mereka – dengan latar belakang berbeda – bergerak dengan kepentingan yang sama, jatuhkan Jokowi atau paling tidak hadang dia supaya kalah telak di 2019,” kata Denny. Berikut tulisan lengkap Denny soal ‘Perang Besar Jokowi’, dikutip dari akun Facebooknya, Jumat (14/7/2017). “Apa dampak terburuk dari keluarnya Perppu pembubaran ormas radikal itu, bang ?”

Tanya seorang teman di kotak pesan. Terus terang, ketika membaca pesan itu, ingatan saya melompat kembali ke pilgub DKI. Dalam peristiwa itu, lawan politik Ahok mencari celah yang tepat untuk menjatuhkannya sekaligus menggoyang pemerintah Jokowi. Satu celah saja seperti “Almaidah 51”, lalu bagaimana gerakan demo besar bergerak mengurung Jakarta.

Dan ketika Perppu keluar, saya melihat inilah celah yang mereka nanti2kan selama ini. Perppu pembubaran ormas radikal ini seperti sebuah kunci yang menyatukan beberapa kepentingan yang ujungnya ada di Pilpres 2019. HTI jelas adalah pihak yang tersudut dengan keluarnya Perppu itu, karena pemerintah sudah mengumumkan pembubaran kelompok mereka sebelumnya. Dan selain HTI, ada beberapa ormas Islam radikal lain yang juga merasa terancam dengan adanya Perppu itu. Mereka akan bergabung menjadi satu kekuatan dengan nama “Umat Islam” dan akan membentuk koalisi seperti ketika mereka membentuk GNPF-MUI. Dan ini adalah kendaraan Rizieq Shihab yang dia nanti-nantikan dengan konsep “Revolusi Putih”nya.

Oke, sesudah semua gabung dan berkoalisi, temanya apa dong ? Tema yang dipakai adalah “Umat Islam melawan pemerintah zolim yang sudah dikuasai PKI”. Wah, tema bagus ini karena hantu PKI masih jadi momok bagi sebagian masyarakat awam yang tidak paham sejarah. Kalau tema sudah di dapat, lalu siapa pendananya ? Demo besar – apalagi berjilid2 – pasti butuh dana besar juga, karena mengerahkan massa dari luar Jakarta pasti butuh transportasi. Belum lagi nasi bungkus di TKP – yang mahal yang pake rendang – dan uang saku buat jalan-jalan keliling Jakarta..

Lalu mulai bergeraklah “seseorang yang tidak boleh disebut namanya yang berjanji jalan kaki Yogya Jakarta” menghubungi kelompok lawan politik Jokowi…
“Ini ada momen nih buat Pilpres. Lu keluar duit dong, biar kita yang kerja..”

“Oke, gua hubungi dulu beberapa mafia dan kartel yang sudah gak bisa cari makan lagi di era ini. Tapi nanti dukung gua jadi Presiden ya ? Gua udah bosan main kuda2an..”
“Trus, gua jadi wakil ?”
“Kita lihat aja hasil kerja lu gimana..”
Maka mulailah gerakan silent operation yang mengumpulkan para aseng yang proyeknya banyak dibatalkan di era Jokowi.

Dengan keluarnya Perppu ini, Jokowi tanpa sadar sudah mengumpulkan lawan dalam satu barisan. Mereka – dengan latar belakang berbeda – bergerak dengan kepentingan yang sama, jatuhkan Jokowi atau paling tidak hadang dia supaya kalah telak di 2019..

Dan jika ini terjadi, kita kembali akan melihat gerakan besar menuntut turunnya Jokowi karena berseberangan dengan “umat Islam”.
Dan gerakan mereka akan difasilitasi oleh orang dalam Istana yang punya niat untuk bergabung dengan kelompok lawan karena selama bersama Jokowi tidak pernah mampu menungganginya untuk kepentingan kelompok bisnisnya..
Jika analisa ini benar, tahun 2017-2018 akan menjadi ajang demo besar berturut-turut yang diharapkan akan menggerus suara Jokowi dalam Pilpres nanti..

Pertanyaannya, apakah pemerintah sudah mengantisipasi dampak ini ?
Kita tahu, lolosnya kita dalam demo besar berangka kemarin, tidak luput dari kepiawaian komunikasi dan negosiasi aparat2 intelijen dan pemerintahan. Tanpa kemampuan itu, niscaya kita sudah chaos.
Tetapi mengandalkan model komunikasi dan negosiasi seperti kemaren, menjadi riskan. Karena lawan juga sudah belajar dari situasi yang terjadi dan kemungkinan besar mereka merubah strateginya.

Dan yang paling mengerikan – semoga ini tidak terjadi – pasukan bom panci yang bersimpati dengan ISIS, akan menyusup ke dalam demo dan meledakkan diri mereka ketika dekat dengan anggota kepolisian. Suasana akan tambah chaos dan Jokowi dituntut harus bertanggung jawab dengan situasi ini.

Mereka adalah pemain “Playing Victim” yang layak dapat Oscar.
Dengan gambaran itu, seharusnya kita menjadi waspada akan apa yang terjadi di depan. Harus dipikirkan langkah-langkah efektif menyambut situasi terburuk yang akan dihadapi. Kita harus ingat, yang ingin menjatuhkan Jokowi banyak dan mereka punya uang..
“Lalu apa strategi supaya bisa mencegah itu ?” Tanya temanku lagi.
Aku menghela nafas. Kuseruput kopiku yang mulai mendingin. Harus kutuang dalam satu artikel lagi
Penulis    : Denny Siregar
SUMBER : Netralnews

Ayo Sebarkan:

Loading...

Share it:

tajuk

Post A Comment:

0 comments:

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.