Kematian Saksi Kunci dan Skandal #JurnalismeKPK,Ternyata..... - Suaranews Kematian Saksi Kunci dan Skandal #JurnalismeKPK,Ternyata..... | Suaranews

Kematian Saksi Kunci dan Skandal #JurnalismeKPK,Ternyata.....

Share it:

ilustrasi


NANTI kita akan sampai pada pengertian yang baik tentang beda antara Hukum dan Jurnalisme.

Dan kematian Johannes Marliem menyeret kita pada perdebatan yg memang seharusnya.

Jika benar bahwa kematian JM ada kaitannya dengan eksploitasi berita secara sepihak maka ini adalah skandal besar.

Soal kematian sudah jelas. Saya mendapat konfirmasi langsung dari otoritas kita yg secara resmi diberitahu oleh FBI.

Maka selanjutnya ada penyelidikan yang akan panjang. Apalagi jika kasusnya bunuh diri.

Sementara itu, KPK telah menggunakan informasi ini untuk mengangkat citra, “kami akan lanjutkan”, ini saksi kunci dll.

Di tanah air telah menggema istilah SaksiKunciEKTP , entah datang darimana seorang yang belum pernah diperiksa jadi kunci.

Kebiasaan latah ini masuk ke media mainstream yang punya reputasi hebat2.

Malam2 saya menelpon seorang jurnalis senior. Saya tanya kenapa Anda sebut saksi kunci? Kunci apa yang dia bawa?

Dia tersadar dan mengatakan bahwa memang itu tidak ada dasarnya. Tapi mungkin karena berita sebuah media.

Pagi ini memang rame kita membaca berita tentang keluhan JM sebelum meninggal dunia.



Jelas digambarkan dalam berita itu bahwa JM menyayangkan Pembocoran pemeriksaannya.

(Kutipan komentar) “Saya tidak mau dipublikasi begini sebagai saksi. Malah sekarang bisa-bisa nyawa saya terancam,” ujar Johannes.

“Seharusnya penyidikan saya itu rahasia. Masa saksi dibuka-buka begitu di media….”

“….Apa saya enggak jadi bual-bualan pihak yang merasa dirugikan? Makanya saya itu kecewa betul,” imbuhnya.

“Saya kira sama saja hukum di AS juga begitu. Kita selalu menjunjung tinggi privacy rights,….

“….harus memberitahu dan consent bila melakukan perekaman,” tuturnya.

Jadi ada dugaan kuat bahwa pemeriksaan JM oleh KPK telah dibocorkan kepada sebuah media. Inilah JurnalismeKPK.

Saya banyak mendengar berita lain yang lebih tajam. Bahwa Pembocoran itu memiliki maksud yang lebih teknis.

Nanti, semua akan terungkap tetapi yang penting adalah JurnalismeKPK harus segera dihentikan sebab korban sudah banyak.

Sejak lama KPK telah mempraktikkan upaya menjadikan KPK tidak saja sebagai lembaga penegak hukum tetapi pembentuk opini.

Pressroom KPK jauh lebih aktif dari pressroom istana. Jubir KPK yang pindah ke istana pun hilang ditelan Jubir KPK.

Tidak saja itu tetapi KPK terlibat banyak sekali kasus Pembocoran dokumen kepada media.

Mulai potongan percakapan, potongan video, sampai bocoran dokumen pemeriksaan.

Ada satu modus yang nanti harus dibuktikan bahwa ada Oknum di pressroom KPK langsung mendapat bocoran.

Lalu, banyak saksi sehabis diperiksa kaget sebab apa yang ditanya di atas ternyata di bawah sudah ditanya wartawan.

Pembocoran seperti ini adalah skandal besar. Dan sayangnya kita menganggap ini biasa.

Di Indonesia oleh KPK tidak ada privacy dan perlindungan dalam gerakan pemberantasan korupsi.

Orang-orang diperiksa tanpa perlindungan nama baik dan privacy. Bahkan KPK sengaja mengundang media untuk dieksploitasi.

Ratusan orang diperiksa sebagai saksi untuk 1 atau 2 tersangka tanpa perlu dirahasiakan. Bahkan sering ikut dihancurkan.

Lembaga perlindungan saksi dan korban (LPSK) yang justru kita bentuk untuk itu malah takut sekali kepada KPK.

Saksi2 KPK mereka tidak mau lindungi dan kalau saksi kasus korupsi datang mereka bilang “boleh gak oleh KPK?”.

Komnas HAM juga gitu, bagi mereka saksi kasus korupsi tidak punya HAM karena KPK bilang Korupsi kejahatan luar biasa.

Para Aktifis perlindungan HAM di negeri ini mengecualikan HAM dari isu yang ditangani KPK.

Karena itu, kasus Niko dan JM yang kita saksikan adalah puncak gunung es dari malpraktik hukum dan JurnalismeKPK.

Ini adalah tantangan besar bagi @PansusKPK @DPR_RI untuk membuka semua kejanggalan ini.

Mari kita saksikan dengan mata hati yang jernih.

Tulisan: Fahri Hamzah

Ayo Sebarkan:

Loading...

Share it:

Tokoh

Post A Comment:

0 comments:

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.