Memilukan! Kisah Pejuang '45 Dituduh PKI Malah Dibui 15 Tahun di Nusakambangan - Suaranews Memilukan! Kisah Pejuang '45 Dituduh PKI Malah Dibui 15 Tahun di Nusakambangan | Suaranews

Memilukan! Kisah Pejuang '45 Dituduh PKI Malah Dibui 15 Tahun di Nusakambangan

Share it:

ilustrasi



Hadi Pranoto (89), seorang pejuang sejati, mantan anggota Tentara Pelajar, asal Sukoharjo ini punya kisah yang tak terlupakan. Meski di zaman serba modern dan usianya yang sudah senja, perjuangannya tak surut dilekang waktu.

Bagi kakek kelahiran, Desa Banaran, Kecamatan Grogol, Sukoharjo ini, hidup haruslah bermanfaat bagi orang lain. Jika dulu dia berjuang untuk kebebasan Negara Republik Indonesia dari penjajah, sekarang dia pun tetap konsisten berjuang demi kepentingan masyarakat banyak.

Perjuangan Hadi dimulai sejak tahun 1946, ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) Banjarsari, Solo. Ia menjadi saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo atau lebih dikenal dengan Serangan Umum Surakarta atau Serangan Umum Empat Hari, 7 -10 Agustus 1949 .

Bahu membahu dia bergerilya bersama para pejuang, pelajar dan mahasiswa. Para pelajar dan mahasiswa yang berjuang tersebut kemudian dikenal sebagai Tentara Pelajar. Sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Mereka berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-maskas Belanda di Solo dan sekitarnya.
"Dulu itu pamitnya ke orangtua ya sekolah. Tapi sampai sekolah kita ikut perang sama teman-teman. Senjatanya ya seadanya, bambu runcing, pecok, pedang, keris, tombak dan lain-lain. Semangat kita cuma satu, mengusir Belanda dari Solo," ujar Hadi, saat ditemui merdeka.com di kediamannya, Jumat (11/8).

Menurut Hadi, serangan 4 hari di Solo digagas di kawasan Monumen Juang 45, Banjarsari, Solo. Untuk menyusun serangan, para pejuang kemudian berkumpul di Desa Wonosido, Kabupaten Sragen. Dari situlah ide untuk melakukan serangan umum dikobarkan.

"Waktu itu saya bergabung dalam Detasemen II Brigade 17 Surakarta yang dipimpin Mayor Achmadi," kenangnya.

Untuk menggempur markas Belanda, kata dia, serangan dilakukan dari 4 penjuru kota Solo.

sumber: merdeka

Ayo Sebarkan:

Loading...

Share it:

tajuk

Post A Comment:

0 comments:

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.