#StopBullying Cerita Viral Anaknya di Bully, Malah Tambah Semakin Kuat Mentalnya! Ternyata si Pembully Korban Dari Mak-mak Rempong - Suaranews #StopBullying Cerita Viral Anaknya di Bully, Malah Tambah Semakin Kuat Mentalnya! Ternyata si Pembully Korban Dari Mak-mak Rempong | Suaranews

#StopBullying Cerita Viral Anaknya di Bully, Malah Tambah Semakin Kuat Mentalnya! Ternyata si Pembully Korban Dari Mak-mak Rempong

Share it:

ilustrasi

KEDUA ANAKKU KORBAN BULLYING (1)

Athira, anak pertama saya, langsung masuk kelas 1 SD semester genap begitu kami pulang ke tanah air sekembalinya kami dari studi di Islamabad.

Karena memang tadinya saya tak berniat pulang ke tanah air, maka saya tak membiasakan Athira berbahasa Indonesia, dia hanya paham sedikit2. Bahasa sehari2 kami dengan bahasa Inggris pastinya masih terus terbawa hingga kami di Indo. Otomatis, di sekolah barunya pun lebih sering menggunakan Bahasa Inggris. Beberapa gurunya ada yang bersedia bercakap Inggris dengan Athira, katanya sekalian melancarkan bahasa Inggrisnya.

Ternyata hal ini memicu ketidaksukaan teman2 di sekolah barunya. Ditambah hal lain lagi, awalnya raport bayangan Athira merah semua alias jauh di bawah rata2 kelas, karena memang dia belum menangkap bahasa yang disampaikan gurunya. Dan ketika raport kenaikan kelas, nilai2nya luar biasa melonjak sampai dia meraih peringkat ke-2. Hal ini pula yang merangsang teman2nya untuk semakin membullynya.

Setiap hari saya yang antar-jemput sendiri ke sekolah & setiap hari juga di tengah2 hari sekolah saya intip aktifitasnya di dalam kelas juga di lingkungan sekolah. Jadi sering saya melihat dengan mata kepala sendiri hampir seluruh teman2 kelasnya, kelas lain & kakak2 kelasnya membullynya. Baik secara verbal maupun fisik.

Saya belum ikut campur, walaupun saya sampai nangis melihatnya apalagi ketika itu saya dalam keadaan hamil tua. Ketika sudah di mobil pulang sekolah & di rumah juga, saya kuatkan dia.

"Selama hanya diejek, dihina, atau diledekin...Yayang nggak usah balas...cuekin aja...banyak2 do'a yang baik2..."

"Tapi kalau mereka sudah main fisik, Yayang harus balas yang sama! Dipukul, balas pukul...ditoyor, balas toyor...ditendang, balas tendang...!"

Pesan terakhir itu tanpa sepengetahuan Ayahnya, tapi terus saya tanamkan ke dia.

Memang anak ini nggak pernah menangis selama dibully, hanya kelihatan jutek yang kadang dibawanya sampai ke rumah.

Pernah teman2 perempuannya sudah kelewatan, ketika mengejek sudah nggak ditanggapi oleh Athira, akhirnya kepala Athira ditoyor, jilbabnya ditarik, roknya diangkat. Dan Athira pun balas perbuatan mereka dengan memukul kepala mereka dengan penghapus papan tulis. Sampai salah satunya muntah & ortunya nggak terima. Merasa anaknya gegar otak, dia lapor KepSek. Saya pun dipanggilnya. Begitu juga guru yang menjadi saksi mata kejadian ini.

Sebelum saya datang ke sekolah, saya telpon KepSek & memberi saran bahwa mempertemukan kami para ortu bukan solusi, justru memperuncing masalah. Harusnya saya yang lapor karena anak saya tiap hari dibully secara verbal & fisik. Jadi sebaiknya anak2 saja yang dipanggil disidang apa masalahnya, walaupun mereka baru kelas 2 SD mereka harus belajar jujur & bertanggung-jawab. Kalau memang anaknya benar gegar otak, saya siap bertanggung-jawab, asalkan anaknya mau jujur mengakui apa yang telah dia perbuat ke anak saya. AlhamduliLLAH masalah selesai tanpa harus ortu yang disidang, walaupun ibu2 lainnya jadi sinis tiap ketemu saya di sekolah padahal anaknya juga nggak terindikasi gegar otak.

Pernah juga ketika Athira sedang makan siang sendirian lesehan di koridor sekolah, tiba2 dijambak jilbabnya oleh kakak kelasnya laki2. Ketika Athira tersungkur, perutnya langsung diinjak beberapa kali olehnya. Saya nggak lihat kejadian itu, tapi Athira cerita karena perutnya sampai biru2 & tiba2 dia minta masuk club Taekwondo.

Gantian saya yang lapor ke KepSek & seperti sebelumnya saya minta anak tersebut saja yang disidang & diberi peringatan, kalau nggak mempan baru panggil ortunya. Hasilnya, sisi mobil kiri saya dibaret dari depan sampai belakang dengan batu bata. Dugaan saya langsung ke anak tersebut. Ketika istirahat sekolah, saya ajak ngomong dari hati ke hati sampai dia nangis2 minta maaf ke saya.

Masih banyak lagi aksi bullying dari teman2 SD kelas 1 & 2 untuk Athira. Ranselnya ditarik-tarik hingga sulit berjalan. Juga kacamatanya diumpetin ketika wudhu, karena pada saat itu Athira satu2nya murid berkacamata di kelasnya.

Dan alhamduliLLAH mulai kelas 3 SD semua jadi sahabatnya sampai sekarang walau kuliah berjauhan semua, mereka saling kangen & sering reuni.

Kesimpulan saya dari sikap bullying yang diterima Athira, bahwa banyak mereka anak2 yang masih kelas 1 & 2 SD itu, bersikap seperti itu sedikit-banyak ada pengaruh ortu-nya. Jadi, mereka dengar pembicaraan ibu2nya & jadi ikutan sebel sama Athira. Karena hampir semua anak2 yang saya ajak ngomong, sama bilangnya, "Abis...kata Mamaku, Athira sok pinter...sok Inggris...anak emas guru & KepSek...dll...dsb..."

Ditambah lagi...pernah saya diceritakan oleh beberapa guru, ketika jam pulang sekolah ada salah satu ibu tanya ke Athira, "Duh...Athira gembul banget perutnya...abis makan apa...?" Dijawab oleh Athira dengan tegas, "Makan bola!"

Pernah juga ada ibu2 yang ngeledekin Athira, "Kamu gembul banget sih...makan mulu ya kerjaannya...?" Dijawab oleh Athira yang baru berusia 5 tahun kala itu, "Iya...karena Bundaku jago masak Pakistani Food. Tante anaknya kurus...karena Tante nggak bisa masak ya...?"

Padahal saya hanya mengajarkan, membalas hanya ketika sudah main fisik.

Tapi alhamduliLLAH, badai cepat berlalu. Dan Athira taft menghadapi itu semua. Jadi sampai sekarang pun silaturahim saya dengan para ortu murid yang pernah membully Athira itu juga baik2 saja sampai sekarang. Tak ada dendam. Tetapi ketika mereka mengingatnya sebagai memori yang lucu, baru saya marah. Karena saya tak suka dengan orang2 yang menganggap remeh bullying.

Dan memang mental Athira sampai sekarang ini cukup kuat. Kalau masuk sekolah baru, belum punya temen ya dia cuek aja. Dibully kakak kelas, ya nggak pernah cerita juga ke saya. Nanti saya taunya dari temannya yang lain. Dan memang sudah beberapa kali, kakak kelasnya yang pernah ngebully dia akhirnya jadi sahabatnya sampai sekarang.

Pesan saya pribadi:

• Jangan pernah menganggap enteng bullying yang dihadapi anak. Kalau dia curhat, jangan diremehin. Selidiki sendiri & tanya2 guru2 terkait serta OB sekolah karena mereka lebih sering perhatian ketika bukan di dalam kelas.

• Jalin kerjasama yang baik dengan pihak sekolah, bukan hanya guru2 pengajar tapi juga kepala sekolah, kantin & OB.

• Jangan mudah beranggapan, "Ah...namanya juga anak2...nanti juga baikan lagi..."

• Kita sebagai ortu jangan komentarin teman anak kita di depan anak kita sendiri, karena hal itu mungkin memicu anak kita membully temannya.
_____________________________

Lalu bagaimana dengan bullying yang dihadapi Bilqis? Tentunya beda anak beda juga sifat & karakternya, maka beda pula cara menghadapinya. InsyaALLOH saya akan berbagi di episode selanjutnya.

#StopBullying
#IStandAgainstBullying

Sumber: Lulu Basmah

Ayo Sebarkan:

Loading...

Share it:

gallery

Parenting

top

Post A Comment:

0 comments:

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.